Terjemah Al Hikam – Hikam 282

Hikmah 282

“Bahkan terus bangkit semangat ingin segera sampai kepada Allah dan terus berjalan menuju kepada-Nya, sambil berharap pertolongan Allah untuk segera sampai kepada Allah.”

Advertisements

Terjemah Al Hikam – Hikmah 281

Hikmah 281

“Maka ia memalingkan muka dari dunia ini, dan mengabaikan dengan memejamkan mata dan berjalan terus (meletakkan di belakangnya), maka tidak menganggapnya sebagai tanah air atau tempat tinggal.”

Terjemah Al Hikam – Hikmah 280

Hikmah 280

“Maka siapa yang sempurna ‘aqalnya, adalah orang yang lebih suka pada apa-apa yang kekal (bi maa huwa abqa’) daripada yang akan rusak (bi maa huwa yafna’). Sungguh telah bersinar terang nur di hatinya, dan tampaklah buktinya pada perilakunya.”

Terjemah Al Hikam 294 Syaikh Ibnu Aththoillah

Hikmah 294

“Semoga Allah menjadikan kegembiraan kami dan kamu dengan Allah dan dengan ridha terhadap apa-apa yang dari Allah. Semoga Allah menjadikan kita golongan yang mengerti segala sesuatu dari Allah, dan jangan menjadikan kita dari golongan yang lalai. Semoga Allah menjadikan kita di jalan kaum yang takwa (al-muttaqin) dengan karunia dan kemurahan Allah swt.”

Terjemah Al Hikam Syaikh Ibnu Aththoillah Hikmah 293

Hikmah 293

“Allah telah mewahyukan kepada Nabi Daud as.:”Hai Daud, katakan kepada para Shiddiqin:”Bersama Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir denganKu hendaknya mereka merasakan nikmat.”

Terjemah Al Hikam Syaikh Ibnu Aththoillah Hikmah 292

Hikmah 292

“Manusia di dalam menghadapi nikmat karunia Allah terbagi tiga:

1. Gembira dengan nikmat itu, bukan karena yang memberikannya, tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawanafsu dari nikmat itu, maka ini termasuk orang yang lalai (ghaafil). Orang ini sesuai dengan firman Allah: “Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang diberikan itu, Kami tangkap/siksa mereka dengan tiba-tiba..”

2. Orang yang gembira dengan nikmat, karena ia merasa bahwa itu karunia yang diberikan Allah kepadanya, ini sesuai dengan firman Allah:”Katakanlah, Karena merasa mendapat karunia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus bergembira, yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

3. Orang yang hanya gembira dengan Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena karunia Allah. Sebab ia sibuk memperhatikan Allah sehingga terhibur dari segala selain-Nya, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah. Ini sesuai dengan firman-Nya:”Katakanlah, hanya Allah, kemudian biarkanlah mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung..”

Terjemah Al Hikam 291 Syaikh Ibnu Aththoillah

Hikmah 291

“Ketika Syaikh Ibnu Aththoillah ra. ditanya tentang sabda Nabi saw. ‘Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam shalat’. Apakah itu khusus untuk Rasulullah saw sendiri atau juga ummat beliau mendapatkannya? Jawabannya:”Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut kadar kekuatan ma’rifat seseorang terhadap apa yang dilihat itu, sedangkan ma’rifat Rasulullah saw tidak dapat kita samakan dengan ma’rifat yang lainnya. Karena itu tidak ada¬† kesenangan/kepuasan seperti kesenangan/kepuasan seperti kepuasan beliau.

Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam shalat, karena menyaksikan yang dilihatnya. Nabi saw sendiri telah mengisyaratkan dalam sabda beliau saw: “Di dalam shalat” dan bukan “Dengan shalat” sebab Nabi saw tidak ridha/puas/senang hati beliau selain kepada Rabb-nya.
Continue reading